Laman

Rabu, 11 April 2012

Pelangi

Part 5


“Mia! Mia!” Riko meneriakkan nama Mia di tengah keramaian pasar malam.

“MIA!” teriak Riko keras-keras. Ia mengacak-acak rambutnya. Kepalan tangannya mengeras, kuku-kukunya sampai menancap di telapak tangannya. Ia mulai frustasi.

“Eh eh, tadi lo liat ga ada cewek jalan sedirian kayak orang ilang?” ujar seseorang.
Riko menoleh. Ia melihat dua remaja cewek seumuran Mia sedang mengobrol tak jauh dari tempatnya. Ia mendekati kedua remaja tersebut.

“Iya, iya, gue liat. Cantik ya ceweknya. Cowoknya kemana sih, bahaya tuh dibiarin gitu aja.” seru cewek yang disebelahnya.

“Iya, eh, lo liat dua cowok yang dibelakangnya nggak?” tanya cewek yang satu lagi.

“Iya, serem banget tau nggak. Jangan-jangan tuh dua cowok jahat lagi?” Riko yang mendengarnya semakin menguatkan kepalan tangannya, berjalan rusuh ke arah dua remaja tersebut.

“Ish, amit-amit iiih. Semoga cewek tadi ketemu sama cowoknya ya..”

“Mbak! Mbak! Mbak liat cewek yang mbak bicarain dimana?” seru Riko sambil mengguncang bahu salah satu dari mereka.

“Ih mas, apa-apaan sih.”

“Mbak, jawab saya mbak!”

“Mas cowoknya.......ya?”

“Mbak!” bentak Riko. Kedua remaja tersebut terdiam. Riko menghela nafas.

“Mbak, maafin saya bentak-bentak mbak nggak jelas. Tapi tolong jawab saya mbak.” ujar Riko.

“Hmm.. itu disana mas. Tadi saya liat mbak itu muter-muter di daerah bianglala, disana.” salah satu dari mereka menjawab Riko dan menunjukan tempat dimana mereka bertemu Mia.

“Makasih mbak, makasih banyak!” ujar Riko singkat lalu berlari ke arah bianglala.



“Mia! Mia! Mia! Lo dimana? Mia!” teriak Riko lagi. Riko memperhatikan satu-satu penumpang bianglala itu, namun tak ada Mia disana. Riko melihat ke arah belakang bianglala. Disana gelap. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi disana. Ia benci dengan apa yang ia pikirkan sekarang.

“Nggak, nggak mungkin. Riko, lo harus tenang.” Riko pun menenangkan dirinya dan berlari kecil menuju daerah belakang bianglala. Benar saja. Disana sepi, gelap dan...

“BUGH!!”

Nyaris saja apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Disana ada Mia yang sedang berjalan sendirian, dan dua orang lelaki yang salah satunya mencoba meraih pundaknya dari belakangnya.

“Woi! Lo apa-apaan?!” bentak lelaki yang satunya.

Mia menoleh.

“BUGH!” Riko memukul lelaki yang mencoba menyentuh Mia.

“Riko!” seru Mia kaget.

“BUGH!” Riko memukul lelaki itu tanpa ampun.

“Woi! Lo apa-apaan?!” lelaki yang satunya mencoba menjauhkan Riko dari temannya.

“Lo yang apa-apaan!! Jauh-jauh lo dari cewek gue!” ujar Riko yang akhirnya sudah di dalam dekapan Mia. Jantung Mia berdegup kencang mendengar teriakan Riko. Entah kenapa, kata-kata “cewek gue” membuat dadanya berdegup lebih kencang.

“Riko, Riko. Lo tenang, Ko..” ujar Mia pelan.

“Gimana bisa gue tenang liat lo mau diapa-apain?!” bentak Riko. Mia menunduk, terdiam. Lelaki yang dipukuli Riko menyeka darah yang mengalir di bibirnya, lalu tersenyum sinis.

“Hoh, boleh juga lo. Lo apaan? Atlet karate? Taekwondo? Aikido? Judo? Atau pencak silat?” lelaki tersebut terkekeh.

“Makanya punya cewek tuh jagain. Jangan dibiarin keluyuran sendiri. Untung belum kenapa..”

“BUGH!! Kurang ajar lo!!” Riko lepas kendali dan memukul lelaki yang satu lagi.

“Riko!” Mia kembali mencoba menahan Riko.

“Bro, bro. Santai bro. Oke kita minta maaf. Maaf, maaf. Dimaafin nggak, cantik?” tanya lelaki yang dipukul pertama oleh Riko sambil mencoba mencolek dagu Mia. Riko menepis tangan lelaki itu lebih dahulu dan menghempaskannya dengan kasar. Mata Riko berkilat-kilat penuh amarah.

“LO?! PERGI SEBELUM GUE BENGKOKKIN RAHANG ELO!” tunjuk Riko penuh kebencian. Kedua lelaki yang tersebut menjadi terpancing dan balas memandang Riko penuh kebencian. “SINI LO!! Nggak afdol kayaknya kalau elo nggak kena pukul juga!” seru salah satu dari mereka.

“Udah, udah! Riko, pulang!” Mia menarik tangan Riko. Namun..

“BUGH!! BUGH!!”

“Uagh..!”

“RIKO!” Jantung Mia berdegup semakin kencang. Pipinya terasa perih melihat pemandangan tadi.

“Itu baru setimpal, bro!” seru kedua lelaki tersebut lalu berlari meninggalkan Mia dan Riko.

Riko tersungkur di tanah. Mia jongkok, membangkitkan Riko perlahan.

“Riko.. lo nggak apa-apa?” tanya Mia khawatir.

“Menurut lo..?” seru Riko pelan. Mia menyentuh tulang pipi Riko yang dengan cepat mulai membiru.

“Aww.. jangan dipegang dong. Sakit nih.” Riko meringis.

“Iya, maaf. Sini, tangan lo ke pundak gue. Kita duduk dulu.” Mia mendudukkan Riko disebuah bangku panjang.

“Elo ngapain sok-sok jadi pahlawan kesiangan gitu Ko?” tanya Mia sinis. Riko memandang Mia. Ia bisa merasakan getaran dalam nada bicara Mia.

“Bukannya makasih udah ditolongin.” ujar Riko.

“Lo telat tau.” timpal Mia pelan.

“Lo takut ya?” Mia terdiam.

“Kalau elo sadar lo diikutin, kenapa elo nggak teriak aja?” tanya Riko lagi.

“Mana gue berani.”

Riko terkekeh. “Oh iya iya. Gue lupa kalau elo nggak mungkin seberani itu.”

Mia menatap wajah Riko. Wajah Riko yang tampan ternodai oleh memarnya.

“Sakit ya? Untung aja nggak sampai robek ya. Eh, tapi lo keterlaluan tuh mukulnya.” Mia menggerakkan tangannya ke arah memar Riko. Dengan sigap Riko menepis tangan Mia dan malah menggenggamnya.

“Eits, jangan dipegang gue bilang. Sakit tau.”

“Lo sih pake ngomong gitu segala. Kalau elo nggak ngomong gitu kan siapa tau mereka pergi.”

“Ngomong apaan?”

“Itu tuh. Pake melotot-melotot lagi. Nunjuk-nunjuk lagi. Siapa yang nggak panas coba digituin. Lo ngomong apa ya? Oh iya. ‘Pergi lo sebelum gue bengkokkin rahang elo!’ “ Mia meniru-niru Riko. Riko terbahak-bahak.

“Emang gitu banget ya? Perasaan nggak segitunya deh.” elak Riko disela-sela tawanya.

“Iya. Serem gue liatnya.” ujar Mia jujur.

“Iya iya, maafin gue ya Mia.”

“Buat apa? Elo kan nggak salah.”

“Satu. Gue telat nemuin elo. Dua. Gue bikin lo takut.” jelas Riko.

“Hm.. Gue juga minta maaf.”

“Hah? Maaf?”

“Satu. Gue udah ngilang gitu aja. Dua. Gara-gara gue wajah ganteng yang elo bangga-banggain itu jadi memar.” jelas Mia.

“Hahaha, iya iya.” Riko tertawa kecil.

Mereka berdua terdiam. Riko masih menggenggam tangan Mia. Mia masih digenggam Riko. Keduanya tampak nyaman.

“Mia, gue boleh senderan di bahu elo ya?” Riko memecah keheningan.

“Hmm..”

“Boleh nggak?” tanya Riko lagi.

“Iya.” Kepala Riko pun jatuh........ dipangkuan Mia.

“Lho?” Mia bingung. Hal ini membuat jantung Mia berdebar-debar, membuat hawa dingin yang menyelimutinya berangsur-angsur menjadi panas.

“Ternyata gue ngantuk Mia. Nggak apa-apa ya? Sebentar aja.” Mia mengangguk pelan, menatap langit. Mia tak ingin Rio melihat wajahnya yang entah kenapa, pasti memerah.

Keduanya kembali terdiam. Atmosfer kecanggungan menyelimuti mereka. Mia tetap menatap langit, dan Riko menatap Mia.

“Mia..” Akhirnya Riko memecah keheningan.

“Mmm..”

“Lo jangan ngilang lagi kayak tadi ya..” ujar Riko pelan. Mia menatap Riko bingung.

“Gue ternyata nggak bisa kehilangan elo kayak tadi. Lo janji nggak bakal ngilang kayak tadi ya? Janji?” pinta Riko.

“Riko..” panggil Mia.

“Iya?”

“Lo jangan sok-sok pahlawan kesiangan kayak tadi ya.” ujar Mia pelan.

“Hah?” Riko bingung.

“Gue takut lo nggak bakal dateng tadi. Gue takut banget. Rasanya udah mau nangis. Gue takut banget tadi.” ujar Mia pelan. Riko terdiam.

“Tapi, gue lebih takut lagi liat lo dipukulin tadi. Gue takut elo nggak bangun lagi abis dipukulin tadi. Jadi elo jangan main pukulin orang ya Riko. Gue takut.” ujar Mia tersendat-sendat. Kerongkongannya terasa kering. Air mata tertahan dipelupuk matanya. Mia membayangkan kembali kejadian tadi. Ia benar-benar takut tadi. Takut Riko tidak akan datang, dan takut Riko tidak akan bangun. Rasanya wajah Mia ikut nyeri saat Riko dipukul tadi.



Riko merasakan setitik air membasahi bajunya. Mia menangis. Ia mengusap air mata Mia pelan.

“Jangan nangis hey.” Air mata Mia malah menderas. Riko bangun, dan memeluk Mia.

“Jangan nangis, please. Hari ini udah dua kali gue bikin elo nangis. Jangan nangis. Gue nggak bisa liat elo nangis, Mia. Rasanya gue pengen nonjok diri gue sendiri kalau gue ngeliat elo nangis kayak gini.” pinta Riko. Mia tetap diam dan menangis. Riko mengelus rambut Mia. Ia benar-benar tidak bisa melihat Mia menangis. Memarnya terasa berdenyut melihat Mia menangis. Dadanya terasa sesak.

“Mia, maafin gue. Gue janji nggak akan kayak tadi lagi. Gue janji nggak akan telat lagi. Gue janji akan selalu ada buat elo. Gue janji nggak akan pernah ninggalin elo. Gue janji nggak akan bikin elo khawatir. Gue janji nggak akan bikin elo nangis kayak sekarang. Gue janji.” ujar Riko sungguh-sungguh.

Mia mengusap sisa air matanya dan menatap Riko. Ia bisa melihat bola mata Riko yang coklat gelap seperti anak kecil. Bola mata Riko memiliki sebuah efek penenang untuknya. Bola mata itu seperti menghisapnya kedalamnya. Membuat Mia bisa menyelusuri jiwa tenang milik Riko, dan membuatnya ikut tenang. Mia tersenyum, lalu mengacungkan kelingkingnya.

“Janji ya?” tanyanya.

“Kamu juga janji ya?” Riko ikut mengacungkan kelingkingnya.

“Iya.” seru mereka bersamaan sambil menautkan kedua jari kelingking mereka.


***


Tetasan air hujan menyentuh mobil Riko yang sedang berjalan di menuju rumah mereka.

“Wuah Mia. Untung kita udah pulang ya.” seru Riko.

“Iya. Untung tadi kamu nggak tidur disana.” timpal Mia.

“Iya ya, hehe.” Riko tertawa pelan. Mia memandang keluar jendela.

“Kak Mira. Ini Mia. Udah lama kita nggak ketemu ya. Hujan jarang turun akhir-akhir ini. Jadi kita jarang ketemu. Aku kangen kakak.


Kak, tebak apa? Sekarang, cowok nyebelin yang waktu itu aku ceritain masih tetep nyebelin. Cowok itu udah bikin aku nangis kak. Kakak marahin kak, biar dia nggak seenaknya aja sama aku!


Terus tadi, cowok itu dengan penuh percaya diri bikin janji. Janji dia nggak bakal ninggalin aku. Janji nggak bakal bikin aku khawatir. Janji nggak bakal bikin aku nangis lagi. Dan...... aku percaya sama dia kak.


Entah sejak kapan, aku nggak bisa kehilangan dia. Entah sejak kapan, aku suka ngeliat dia. Entah sejak kapan, binar matanya selalu bikin aku percaya sama dia. Bikin aku tenang.


Kakak, sekarang kakak bisa tenang disana. Kakak nggak perlu capek-capek lagi ngejagain aku. Soalnya, cowok ini udah janji mau ngejagain aku. Jadi, kakak istirahat aja disana yang tenang ya?


Kak, Mia nggak bakal lupain kakak. Kakak selalu ada di hati Mia. Mia akan selalu dan selamanya sayang sama Kakak.


Kakak, kakak suka kan sama cowok ini?”


“Kak Mira, kenalin, aku Riko.” ujar Riko tiba-tiba. Mia menoleh.

“Kak Mira, mulai sekarang, kakak bisa istirahat tenang disana. Sekarang, Mia nggak akan ngeganggu kakak lagi, karena sekarang Mia bakal ngeganggu aku,”

“Kak Mira, aku janji kak. Aku nggak akan bikin Mia nangis lagi kayak tadi. Maafin aku aku bikin Mia nangis tadi, Kak. Dan mulai sekarang, kakak bisa pegang janji aku, kalau aku nggak akan bikin Mia nangis lagi kayak tadi. Kecuali nangis bahagia ya, kak, hehehe..”

“Kak, sekarang, aku minta ijin kakak untuk jadi pelanginya Mia. Boleh ya kak?” Riko berhenti. Mia memandang Riko takjub. Dan, tak lama kemudian hujan berhenti. Riko tersenyum.

“Yak! Kak Mira udah setuju. Makasih ya kak.” ujar Riko. Mia tersenyum.

“Eh Mia, kamu tau nggak? Waktu kecil, aku pernah ketemu anak kecil yang mirip banget sama kamu. Waktu itu anak itu cengeng banget deh. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis.” Riko tersenyum kecil.

“Oiya? Siapa?” Mia menatap Riko penasaran.

“Aku juga masih nggak percaya kalau anak itu adalah cewek yang sama sama yang duduk di sebelah aku sekarang.”

“Hah?” tanya Mia bingung. Riko mencubit pipi Mia.

“Iih, sakiit.” ringis Mia pelan sambil mengelus pipi Riko dengan gemas.

“AWWW! MIA SAKIT!”

“Hahahaha! Btw, Ko, kamu udah dapet SIM 2 dari papa aku belum?”

1 komentar:

  1. The final part! Finally!
    This is my first ending hahaha
    Don't forget read the epilog guys!

    BalasHapus

tinggalkan jejak disini: