Laman

Kamis, 30 Agustus 2012

Sepiku

Aku memejamkan kedua mataku, merasakan angin sore yang menerpa wajahku. Merasakannya yang mengelus lembut pipiku, rambutku, menggelitik telingaku, dan menyapaku.

"Apa kabar, wahai penikmat sepi?"
Aku tersenyum mendengar sapaannya dan tetap menikmati sentuhannya. Tak lama kemudian ia pergi dan datanglah sepasang kupu-kupu. Mereka beterbangan dengan gembira disekitarku, bermain-main dengan rambutku, hingga salah satunya hinggap di telingaku.
Aku tertawa geli. Ia membisikkan sesuatu. "Wahai penikmat sepi, masihkah kau menikmati sepimu?"
Lagi, aku tersenyum, membawa mereka ke jemariku dan mereka pun terbang, kembali bermain dengan bebas. Aku memandang mereka sejauh yang aku bisa.
Tiba-tiba, datanglah seekor kucing. Kemudian ia naik ke pangkuanku dan mengerang pelan. Seolah bertanya,
"Mau kutemani, wahai penikmat sepi?"
Lagi, aku tersenyum dan mengelusnya pelan. Tak lama datang seekor kucing lagi, mengeong pelan. Sepertinya memanggil temannya. Benar saja. Ia pun turun dari pangkuanku dan berlalu bersama temannya.
Aku menghela napas, lalu tersenyum, lagi.
Dan ia pun kembali, si angin sore.
Kembali mengelusku pipiku lembut, rambutku, menggelitik telingaku, dan kembali menyapaku.
"Apa kabar sepimu, wahai penikmat sepi?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak disini: