Part 3
Bugh! Kepala Riko membentur meja. Riko mengelus kepalanya yang sakit.
“Kamu ngapain tidur disitu? Udah jam 6! Katanya mau pergi bareng Mia?” tegur Kak Bintang. Mata Riko membulat. Oh iya! Ia melesat masuk ke kamar mandi.
“Mau mandi lagi? Boros air!” Riko terdiam sebentar. Oh iya! Dia kan sudah mandi. Riko mengetuk-ngetuk kepalanya. Lalu berjalan pelan ke kamarnya.
Ia masih sedikit linglung karena baru bangun tidur dengan tidak tenang. Teriakan Kak Bintang membuatnya kembali ke alam sadar dan secara tak sengaja jatuh dari tumpuan tangannya membentur meja. Riko tertidur kurang lebih satu jam. Setelah pertengkarannya dengan Mia, Riko termenung di meja makannya, dan tertidur.
Dalam mimpinya, kenangan itu muncul. Kenangan indah masa kecilnya. Riko tersenyum. Ya, ia harus berbaikan dengan Mia.
Riko mengenakan kaus Converse abu-nya dan mengenakan kemeja merah biru diluarnya. Ia men-gel sedikit rambutnya agar terlihat segar. Lalu turun ke bawah.
“Kak! Gue pergi dulua yaa! Assalamualaikum! Oiya, pinjem mobil!” Riko mengambil kunci mobil Bintang dan melesat keluar.
Ia mengeluarkan mobilnya dan memarkirkannya di depan rumah Mia.
“Permisi tante. Mia-nya ada?” sapa Riko kepada Mama Mia.
“Itu tuh ada di atas. Dari tadi tante pulang sampai sekarang nggak mau keluar kamar.” keluh Mama Mia. Riko tersenyum serba salah, merasa tak enak dengan mama-nya Mia.
“Biar saya yang bujuk tante. Nggak apa-apa kan kalau saya masuk kamarnya Mia?” tawar Riko. Mama Mia mengangguk.
“Emang mau kemana Ko? Rapi gitu.” tanya Papa Mia.
“Oh iya lupa! Om, tante, saya minta ijin bawa Mia jalan ya? Hehe”
“Mau nembak ya?” goda Papa Mia. Riko tersenyum simpul.
“Belum waktunya om, tante. Tapi boleh kan?” tanya Riko lagi.
“Yang mana dulu nih? Yah, sekarang sih om kasih SIM 1 dulu deh ya.” jawab Papa Mia.
“SIM 1?” tanya Mama Mia bingung.
“Surat Ijin Mengapel kan om?” jawab Riko sambil tersenyum. Mama Mia tertawa, diikuti Papa Mia.
“Ya udah kamu ke atas gih, nanti keburu malem.” ujar Mama Mia. Riko hanya tersenyum dan berjalan ke arah kamar Mia.
Pintu diketuk. Tapi Mia nggak mau dengar. Ia masih marah sama kejadian tadi siang di rumah Riko.
“Mia.. maaf dong..” Mia terenyak. Riko! Mia langsung berjalan ke arah pintu kamarnya dan menguncinya.
“Mia.. maafin gue dong. Gue nggak tau kalau elo beneran percaya. Gue kira elo bales bercandain gue. Maaf dong..” ujar Riko pelan. Mia memang mudah tersentuh hatinya. Apalagi mendengar suara memelas seperti itu.
“Ehm..” Mia mengeluarkan suara.
“Ayo dong Mia.. Kan kita mau jalan.” rayu Riko lagi. Mia melihat jam di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 7 kurang 5.
“Nggak.” jawab Mia singkat.
“Yah Mia.. ayo dong. Ntar gue beliin sebuket bunga aster deh.” ujar Riko.
“Aster?” tanya Mia. “Kenapa aster?”
“Lo suka aster kan?” tanya Riko. Mia terenyak. Kenapa Riko tau Mia suka bunga aster?
“Kok lo tau gue suka bunga aster?” tanya Mia. Diluar, Riko tersenyum. Sekarang ia yakin bahwa Mia memang Mia.
“Tau lah. Apa sih yang nggak gue tau.”
Ah. Paling juga nanya ke Mama nya, pikir Mia. “Alah. Apa warna kesukaan gue?” tanya Mia lagi.
Riko terdiam, memikirkan sebuah jawaban. Ah! Ia tahu.
“ Kuning.” jawab Riko santai.
Mia terdiam.
“Bener kan?” tanya Riko lagi. “Ayo dong Mia..”
“Satu pertanyaan lagi! Kalau lo bisa jawab, gue mau maafin elo.” tantang Mia.
“Oke, siapa takut.”
“Apa baju kesukaan gue?”
Riko terdiam. Lalu menjawab dengan yakin. “Gaun warna kuning dan flatshoes putih.”
Mia terdiam. “Ih kok lo tau?! Lo nguntit gue yaa?!” teriak Mia.
“Enak aja. Feeling.” ujar Riko sok kalem.
“Tetap aja terlalu tepat.”
“Ya udah, keluar! Tuh udah setengah 8. Katanya mau jalan? Ayo keluar! Elo cepet ganti baju!” suruh Riko.
“Idih siapa elo nyuruh-nyuruh. Pokoknya gue baru mau jalan kalau lo bawain gue bunga 3 warna! Tunggu di bawah lo! Gue ganti baju dulu bentar. Jangan lupa bunganya!” ujar Mia galak. Riko mencibir. Banyak banget permintaannya. Untung aja Mamanya punya bunga di rumah. Ia pun turun dan pamit sebentar ke rumahnya.
Riko kembali dengan membawa bunga aster berwarna putih, kuning, dan merah. Cuma ada itu dirumahnya. Ia melihat Mia sudah duduk manis di luar dengan kaus merah marun, bolero jeans, celana jeans, dan flatshoes putih. Ia menguncir setengah rambutnya. Mia terlihat cantik.
“Ini bunganya Tuan Putri..” Riko memberikan bunga ditangannya kepada Mia.
“Suka kan bunganya?” tanya Riko. Mia tersenyum, lalu mengangguk.
“Keren juga feeling lo ya.” puji Mia.
“Gue gitu loh.”
“Eh, nggak naik motor kan?” tanya Mia. Riko tersenyum, lalu memijit kunci mobilnya.
“Mobil telah tersedia tuan putri.” Mia tersenyum melihat sebuah Jazz hitam di depan rumahnya.
“Kayaknya keluarga lo mobilnya Jazz semua deh.” tanya Mia.
Riko berpikir. Oh, mobil Mika yang Mia maksud. “Kebetulan kok.”
“Terus nanti lo mobilnya juga Jazz, gitu?” tanya Mia.
“Ng, nggak ah. Gue lebih suka motor.” jawab Riko.
“Gue nggak bisa naik motor.”
Riko tertawa. “Ah elo naik aja nggak bisa. Payah.” Mia hanya mencibir.
“Yuk ah tuan putri, bangun. Kita mau pergi naik kereta kuda.” Riko mengulurkan tangannya ke Mia yang masih duduk. Mia tersenyum dan menyambut tangan Riko.
“Baik pengawal, kita mau kemana malam ini?” tanya Mia.
“Pengawal pengawal. Pangeran dong.” proter Riko. Mia memicingkan matanya, seolah menilai penampilan Riko.
“Mmm, iya deh boleh. Kita mau kemana pangeran?” tanya Mia. Riko mencibir.
“Pokoknya tuan putri pasti suka. Yuk ah.” Riko membukakan pintu mobil, mempersilakan Mia masuk terlebih dahulu.
Setelah memastikan Mia masuk dengan nyaman, ia pun masuk ke mobilnya.
ayo lanjutkan! kami butu lanjutannya! lanjutkan! \(^o^)/
BalasHapushehehehe
BalasHapusmakasih mau baca naaaaat :*
sip sip, ditunggu yaa :)
lumayan sha, terusin yaaaa
Hapusoiya, rada terpaku sama salah satu paragraf *curhat