Laman

Minggu, 04 Desember 2011

Pelangi

Part 2

“10i! 10i! 10i!” seru cewek-cewek kelas 10i, termasuk Mia.

“10e! 10e! 10e!” cewek-cewek dari 10e tak kalah semangat.

“Priit!” Wasit meniup peluit. Ada apakah gerangan? Oh! Ternyata di detik-detik terakhir pertandingan, Willy, kapten dari 10i melakukan pelanggaran kepada striker 10e, tepat di wilayah pinalti. Maka selanjutnya tendangan pinalti dilakukan oleh 10e atas gawang 10i.

Riko sebagai penjaga gawang bersiap-siap. Tak lupa ia berdoa. Pasalnya, kedudukan sekarang 2-1 untuk 10i. Jika ia kebobolan dalam pinalti ini, kedudukan menjadi berimbang dan kesempatan menang yang asalnya sudah di depan mata menjadi jauh.

Dika, kapten 10e, ambil kesempatan sebagai algojo. Sekarang Dika sudah ambil ancang-ancang untuk menendang. Prit! Bola ditendang ke arah kanan sedangkan Riko di arah kiri, dan Riko melompat dengan cepat ke arah kanan, tangan Riko mengenai bola, bola melambat dan bergulir perlahan dan.....


TIDAK MASUK!!!
Bola menyentuh mistar gawang dan keluar lapangan!

“Waaaa!!!” seluruh cewek 10i bersorak sorai! Walaupun Riko tidak berhasil menangkap bola, tetapi dengan cepat dia menghalau bola agar tidak membobol gawangnya. Seluruh teman setimnya berjoget ria di lapangan, melakukan selebrasi. Cowok-cowok yang ada di kursi pemain bersorak sorai dan tertawa melihat tingkah konyol mereka.

Sedangkan para pendukung 10e sedikit kecewa, namun dengan cepat mereka mengumpulkan semangat mereka kembali dan percaya bahwa dengan waktu yang tersisa 2 menit mereka akan bisa membawa kedudukan menjadi berimbang.

Prit! Peliut ditiup kembali, tanda pertandingan dimulai kembali. Para pendukung dari kedua belah pihak bersorak mendukung tim mereka.

Prit! Ternyata waktu 2 menit sudah habis. Pertandingan dimenangkan oleh 10i dengan skor 2-1. Kedua pemain berjabat tangan dan cowok-cowok 10i berhamburan menuju lapangan. Cewek-cewek 10i ricuh melihat tim mereka menang.

Riko tersenyum, tim mereka menang. Ia mencari-cari sosok Mia yang ada di bangku penonton. Ternyata Mia sedang melambaikan tangan ke arahnya, dengan wajah cemberut, ia pun membalas lambaian tangan Mia sambil tertawa geli.

“Miaa! Tuh cowok lo penyelamat tim kita!” ujar Retno, teman sebangku Mia.

“Iih, apaan sih lo. Dia tuh udah punya cewek tauuu.” ujar Mia.

“Masa sih? Kalau gitu kenapa dia ngedeketin lo terus di kelas?” tanya Vina.

“Nggak tau, emang sinting tu orang.” ujar Mia.

“Ah udahlah, mau sinting kek, mau apa kek, yang jelas dia penyelamat tim kita, dan lo, Mia, lo harus melakukan apa yang lo janjiin ke dia, hahahaha..” ujar Retno disambut cekakak-cekikik dari teman-temannya. Mia cemberut. Benar, sehari sebelum pertandingan ini berlangsung, Mia dan Riko membuat sebuah perjanjian. Jika tendangan pinalti yang dilakukan 10e membobol gawang Riko, maka Riko nggak boleh ngeganggu Mia lagi. Sedangkan jika hal sebaliknya terjadi, maka Mia harus mau jadi cewek Riko selama seharian ini. Jadi sebenarnya, pelanggaran yang dilakukan Wily adalah DI-SE-NGA-JA (jangan ditiru ya ^_^).

Sedangkan Mika gimana?
Riko bilang Mika nggak bakal tau. Orang cuma sehari ini kok.

Tetap saja sebagai cewek Mia nggak setuju, tapi teman-teman sekelas malah mendukungnya. Dasar aneh!
Akhirnya, mau tidak mau Mia pulang dibonceng Riko. Riko hanya tersenyum geli ketika Mia didorong-dorong oleh teman-temannya ke arahnya dan seluruh teman cowoknya tertawa geli melihatnya.

“Mia! Layani pahlawan kita sebaik-baiknya yaa!” teriak Hendra, salah satu teman cowok mereka sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Mia.

“Idiiih! Jijik guee!” ujar Mia sambil memeletkan lidahnya. Riko hanya tertawa. Ada sebuah kepuasan dan kelegaan dihatinya. “Andai aja setiap hari kayak gini.” batinnya.

“Berangkat yuk Ko. Nggak tahan gue denger ledekan-ledekan mereka.” celoteh Mia. Riko tertawa.

“Apaan lo ketawa juga? Jalaan!” ujar Mia sambil mecubit Riko.

“Aduh aduh, ampun Mbaak! Jangan main cubit-cubitan dong.”

“Jalaan!” Riko tersenyum geli dan menstarter motornya. Ketika motor mereka mulai jalan, seluruh teman mereka kompak melambaikan tangan sambil berseru, “Dadah pengantin baruu!”

Riko semakin tertawa dan Mia semakin cemberut.

“Heh lo ikutan ketawa! Nyetir yang bener! Pokoknya kalau sehelai rambut gue lepas, lo harus cari sampe ketemu!” ujar Mia.

“Cerewet amat sih lo. Tau gitu gue ogah deh bikin perjanjian sama lo kalau lo-nya cerewet gini.”

“Bag..” BREM. Riko meng-gas motornya sehingga spontan Mia memeluk Riko. Dan Riko tidak menurunkan kecepatannya.

“Rikoo!! Lo gila yaaa!” teriak Mia sambil tetap memeluk perut Riko karena takut. Riko hanya tersenyum. “Maafin gue ya Kak Mira, kalau hari ini gue kasar sama Mia, hehe..” batin Riko.

Dengan kecepatan super, sekitar 5 menit kemudian mereka sampai di rumah mereka. Mia turun dari motor Riko sambil berceloteh.

“Gila lo! Engga lagi deh gue dibonceng sama lo! Liatin aja nanti gue aduin ke Mama Lia, Papa Rio, Kak Bintang, Kak Risa, Mama, Papa, Kak Mira, sama Kak Seto kalau perlu! Atau gue laporin polisi biar SIM lo dicabut!” omel Mia.

“Elo lebay bangeeet! Udah masuk sana, nanti malem jam 7 gue jemput ya!”

“Eh, mau ngapain? Nggak, gue nggak mau!”

“Perjanjian kita masih berlaku lhoo. Lo mau gue umumin nanti senin kalau lo seorang “pengingkar janji” ?” ancam Riko.

“....” Mia cemberut. “Tapi nggak pake motor ya!”

“Siap deh.” Mia melihat sebuah Jazz biru terparkir di depan rumah Riko.

“Itu mobil siapa, Ko?” tanya Mia.

“Mungkin Mika.” jawab Riko enteng. Wajah Mia memucat. Riko bingung melihatnya.

“Eh, lo kenapa?”

“Nggak tau ah!” Mia buru-buru masuk ke rumahnya meninggalkan Riko. Riko terdiam sejenak. Lalu tak lama kemudian dia tertawa geli dan masuk ke rumahnya.


Ting Tong. Bel rumah Riko berbunyi. Kak Bintang yang sedang di rumah membukakan pintu rumah.

“Eh Mia.” sapa Kak Bintang.

“Mia ikut nunggu Mama sama Papa ya Kak?” tanya Mia.

“Oh, boleh boleh. Ayo masuk.” Mia dipersilakan masuk oleh Kak Bintang.

Mia pun duduk di sofa ruang keluarga sambil mengobrol dengan Kak Risa yang kebetulan sedang ada disana.

“Siapa Kak?” tanya Riko yag ternyata baru keluar kamar mandi dan bertelanjang dada.

“AAA! Rikooo! Sialan lo! Pake baju sanaaa!” jerit Mia sambil menutup mata. Mia langsung melihat Riko karena ia menghadap ke arah kamar mandi.

Riko yang kaget dengan jeritan Mia langsung masuk ke kamar madi lagi dan keluar dengan memakai kausnya.

“Gila terikan lo super banget.” ujar Riko. Mia masih menutup natanya.

“Udah pake baju belum lo?!” tanya Mia galak.

“Udah kok, buka aja mata kamu Mia.” ujar Kak Risa. Kak Bintang geli melihat tingkah Mia dan Riko. Kak Risa yang melihat Kak Bintang tertawa menginjak kaki Kak Bintang dan berekspresi galak, menyuruh Kak Bintang berhenti tertawa.

“Ngapain lo kesini?” tanya Riko.

“Suka suka gue dong.” jawab Mia.

“Kenapa nggak siap-siap buat nanti?” tanya Riko.

“Ogah gue.” timpal Mia.

“Eh, elo ya.”

“Emang kalian mau kemana? Ngedate ya?” tanya Kak Risa.

“Cieee.. Ehem ehem. Kapan jadinya?” goda Kak Bintang.

“Bentar lagi Kak, doain aja.” jawab Riko.

Mia menimpuk Riko dengan bantal sofa. “Masuk kamar lo!”

“Yee.. rumah gue ini.” Tapi akhirnya Riko berjalan ke tangga dan masuk kamar. Mia kembali mengobrol dengan Kak Risa dan Kak Bintang.

“Kok mau sih jalan sama Riko? Yang ada malah diutangin lho.” tanya Kak Bintang, suaranya cukup keras.

“KAKAK! GUE DENGER LHOO!” teriak Riko dari kamarnya.

“Ups.” Kak Bintang menutup mulutnya.

Mia hanya cemberut. “Mia kalah taruhan Kak.”

“Taruhan?” tanya Kak Risa. Mia menceritakan semuanya.

“Ooh, gitu toh. Dasar.” ujar Kak Risa. Mia melihat sebuah undangan pernikahan di atas meja. Tertulis nama Mika & David. Mia mengernyitkan dahinya.

“Ini undangan siapa Kak?” tanya Mia.

“Oh, itu undangannya Mika, sepupu Kakak. Oiya, tadi juga dia titip undangan buat mama kamu, nih.” jawab Kak Bintang. Mia membukan undangannya. Disitu dicantumkan foto kedua mempelai. Dan Mika dalam foto adalah Mika yang sama dengan Mika pacar Riko. Mia mulai bingung, lalu kembali bertanya.

“Terus tadi mobil Jazz biru yang di depan punya siapa?”

“Ya punya Mika.” jawab Kak Risa. Mia terdiam.

“Sebentar ya Kakak kakak sekalian.” Mia berdiri dan berlari ke arah kamar Riko.

“Rikooo!!!” ujar Mia sambil menggedor pintu kamarnya.

“Apaan sih teriak-teriak di rumah orang.”

“Dasar nggak tau malu lo! Nyebeliin!” ujar Mia sambil memukul Riko. Kak Bintang dan Kak Risa hanya melihat dari bawah dengan heran.

“Eh eh, kenapa sih?” ujar Riko heran. Ia melihat setitik air mata di ujung mata Mia. Dadanya berdegup kencang. “Ada apa?” batinnya.

“Tau ah! Ngomong aja sama tembok!” ujar Mia dan kembali berlari ke bawah. Ia mengusap air matanya dan pamit pulang ke Kak Bintang dan Kak Risa. Riko terdiam di atas, dadanya berdegup sangat sangat sangat kencang. Mia menangis. Ada apa?

Riko pun turun ke bawah dan bertanya kepada Kak Bintang, apa yang tadi mereka obrolkan. Kak Bintang menjelaskan semuanya. Riko terdiam. Tapi lama kemudian tersenyum geli. Kak Risa dan Kak Bintang makin heran. Kemudia Riko menjelaskan semua.

“Gila lo. Jahat banget sama Mia.” komentar Kak Bintang.

“Abisnya dia percaya aja sih.” ujar Riko serba salah.

“Minta maaf sana. Nanti nggak dimaafin, kamu yang uring-uringan lagi.” ujar Kak Risa.

“Apaan sih Kak..” elak Riko.

“Udahlah jangan ngelak, kita semua udah tau kok.” ujar Kak Bintang.

“Tau?” tanya Riko.

“Mm hm. Siapa itu Mia dan apa perasaan kamu ke Mia, semuanya deh. Mama, Papa, sama Kak Risa udah tau kok.” ujar Kak Bintang.

“Lho kok?”

“Abis jidat lo transparan sih. Jadi semuanya tertulis dengan jelas di jidat lo.”

Riko terdiam. Mereka udah tau semuanya. Bisa jadi Papa Mama nya Mia juga udah tau.

“Papa Roni sama Mama Mawar juga?” Kak Risa mengangguk.

“Aaah. Kok bisa?” ujar Riko bingung. Kak Bintang dan Kak Risa hanya mengedipkan mata mereka.

“Tau ah.” Riko masuk ke kamarnya dengan perasaan campur aduk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak disini: