Laman

Selasa, 03 Januari 2012

Pelangi

Part 4

“Kita mau kemana sih, Ko?” tanya Mia.

“Makan.”

“Yee, iya gue udah tau kita mau makan. Tapi apa? Dimana?” tanya Mia.

Riko menatap Mia dalam dalam.

“Apaan liat-liat? Liat ke jalan!” seru Mia.

“Lo cantik.” ujarnya singkat dan kembali fokus ke jalan
.
Mia merasakan wajahnya memerah. “Apaan sih Riko! Ih!” batinnya kesal. Akhirnya Mia memilih untuk diam.
Merasa tidak direspon, Riko menoleh lagi. Sekarang ia melihat Mia sedang melihat keluar jendela.

“Kok diem?” tanya Riko.

“Hmm.” jawab Mia.

“Eeh, emang cantik kok.” tambah Riko. Mia makin diam.

“Gue nggak gombal ya, Gue cuman ngomong apa adanya, kalau elo nggak jelek.” ujar Riko. Mia melongo mendengar penjelasan Riko, lalu mencibir.

“Cih. Elo jelek.” ujar Mia kemudian. Spontan Riko langsung ngaca ke spion tengahnya.


“Hah? Masa yang gini jelek? Lo bandingin gue sama apa sih?” tanya Riko.

“Iyeeee.. narsis looo. Emang lo jelek.......dibanding...... Zac Efron.” lanjut Mia tanpa dosa. Riko melongo.

“Miaa... Gue tau kalo gue itu memang ganteng. Riwayat SMP gue bilang kalau gue adalah salah satu “The Most Wanted Guy”. Di SMA gue yang sekarang juga, walaupun gue nggak dapet gelar secara resmi, tapi gue melihat tanda-tandanya. Setiap gue ngelewat koridor kelas 1, cewek-cewek ngeliatin gue. Setiap gue ngegandeng elo di koridor kelas 2, kakak-kakak kelas pada gatel pengen ngeroyok elo. Setiap gue nangkep bola dilapang, cewek-cewek kelas 3 pada gemes pengen ikutan main bola sama gue. Udahlah.” jelas Riko sambil terus menyetir. Mia melongo.

“Terusin terusin, gue yakin lo masih mau ngelanjutin omongan lo.” ujar Mia.

Riko menarik napas. “Tapi.. lo nggak bisa bandingin gue sama makhluk yang satu itu! Walaupun gue cowok, tapi gue tau kalau Zac adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang sangat berhasil! Lo nggak liat apa mata gue nggak biru tapi coklat? Kalau mau bandingin gue tuh sama yang mungkin-mungkin aja. Ah! Coba bandingin gue sama Olga deh, eh atau Sule! Pasti gantengan gue!” ujar Riko rada emosi. Mia daritadi hanya menutup mulutnya, menahan tawa.

“Hahaha... lo, haha.. beraninya cuma dibandingin sama Olga dan Sule doang..hahahaha..” Mia tak kuasa menahan tawa. Riko mendengus kesal. “Lagian lo bandingin gue sama Zac Efron sih. Kegantengan gue bisa terbang gitu aja kalau dibandingin sama dia sih..”

Mia masih tertawa. Lalu ia melihat sebuah kotak kacamata di bagian dasbor mobil. Lalu Mia meraihnya.

“Ini kacamata siapa?” tanya Mia setelah tawanya mereda. Riko melirik selintas.

“Kak Bintang. Kacamata biar nggak silau katanya kalau pagi.” Mia membuka kotak tersebut dan mengambilnya. Pantas saja. Kacamata itu kacamata hitam. Aha! Mia punya ide.

“Eh Riko, lo pake kacamata ini deh.” ujar Mia sambil memberikan kacamata itu kepada Riko. Riko meraihnya dan memakainya.

“Gelap nggak?” tanya Mia.

“Ya iyalah!” jawab Riko. Mia terkikik.

“Emang kenapa lo mau gue pake kacamata ini?” tanya Riko.

“Hmm... kalau lo pake kacamata, ternyata gantengan elo dibanding Kak Bintang.” ujar Mia. Riko mencibir.

“Cih, itu sih semua keluarga gue juga bilang.” Riko ngaca sebentar ke spion mobilnya, lalu berujar dengan bangga,

“Wah! Kayaknya Afgan juga kalah sama gue!”

Mia mendengus. “Gue nggak tau kenapa harus semobil sama orang ternarsis sedunia.” Riko tersenyum, “ini sih bukan narsis, tapi fakta.” Mia melirik Riko yang sedang tersenyum. Tiba-tiba tubuhnya gemetar.

Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Riko yang menyadari kalau Mia gemetaran langsung menaikkan suhu AC mobilnya.

“Kedinginan ya? Lagian lo pake baju tipis gitu.” ujar Riko. Setelah berhasil mengontrol dirinya, Mia memeletkan lidahnya, “Engga juga tuh.”

Riko hanya mendengus dan refleks menyentuh puncak kepala Mia, lalu tertawa. Tak lama kemudian Riko tersadar.

“Eh, maaf..” Riko menoleh. Mia hanya diam dan memandang keluar jendela. Riko merasa bersalah.

Sekarang, kecanggungan antara mereka menambah hawa dingin mobilnya.


***


“Nah, sampai.” ujar Riko memecah keheningan. Mia melihat kesekelilingnya. Sepertinya Riko membawanya kesebuah pasar malam. Mia heran.

“Katanya mau makan?” tanya Mia. Riko hanya tersenyum. “Makan kan nggak harus di resto aja neng.” Entah kenapa, Mia ikut tersenyum. Senyum Riko sepertinya....... magis? Ah entahlah, Mia sendiri bingung.

“Yuk ah!” Mereka berdua pun memasuki area pasar malam tersebut.


“Mia! Lo kalau mau kemana-mana bilang gue ya! Disini rame banget!” ujar Riko setengah berteriak. Mia hanya mengangguk. Keramaian disini membuat mereka harus setengah berteriak jika ingin berbicara.

“Yuk ah kita cari makan!” ujar Riko. Mia berjalan mengikuti Riko dari belakang. Namun Riko berbalik dan menjulurkan tangannya. Mia tersenyum dan menyambutnya.

“Maafin gue yang tadi. Yang ini juga. Bukan apa-apa, gue takut elo ilang.” ujar Riko tanpa menatap Mia. Mia hanya terkikik geli. Entah hanya perasaannya saja atau memang terjadi perubahan cuaca. Mia merasa, hawa disekelilingnya menjadi hangat.

Riko menatap Mia. “Mia? Kok muka lo merah gitu? Lo demam?” Riko menyentuh dahinya bersamaan dengan menyentuh dahi Mia.

“Ah nggak ah..” ujar Riko bingung. Mia hanya menatap Riko, kemudian menempelkan dahinya ke dahi Riko. Sekarang, wajah Riko yang memerah. Mia pun berseru, “Ah, elo kali yang demam!”. Riko memegang pipinya. “Engga ah.” ujarnya lagi.

Bingung, Riko pun menarik tangan Mia menuju sebuah kedai.


“Eh Mas Riko.” sapa seorang bapak-bapak yang sepertinya pemilik kedai.

“Hello Pak! Apa kabar?” sapa Riko.

“Alhamdulillah baik. Eh, itu siapa Mas? Cantik banget.” tanyanya lebih lanjut. Mia tersenyum kaku. Riko menatap Mia.

“Tuh kan apa kata gue! Lo tuh cantik!” Riko merasa menang, Mia hanya tersenyum dan menginjak kakinya.

“Apa-apan sih lo?!” ujar Riko kesal. Lagi-lagi Mia hanya tersenyum ke bapak itu dan menarik Riko duduk di kursi dekat kasir. Bapak itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

Konsep kedai ini seperti kedai-kedai ramen atau sushi yang sederhana di Jepang. Hanya saja, masakan yang dijual adalah, “Indonesian’s Specialty Only!”. Begitulah spanduk yang dipasang di depan kedai. Unik.

Mia sendiri sempat terpesona dengan kedai ini. Ada juga kedai seperti ini di sebuah pasar malam. Padahal Mia tahu, seluruh interioir kedai ini adalah rekayasa. Dindingnya mungkin terbuat dari triplek yang sedikit lebih tebal. Untuk lantainya sendiri hanya sebuah papan kayu dengan corak yang unik. Hanya tinggal menata ruangan, dan pintar-pintar memoles semuanya dengan rapi. And Voila! Nggak akan ada kesan rekayasa yang dirasakan oleh orang awam.

Riko yang menjelaskan hal tersebut kepada Mia. Hmm, sekarang Mia tahu bahwa Riko memiliki ketertarikan terhadap arsitektur.

Mia sedikit kagum dengan pemikiran Riko. Kalau Riko nggak ngasih tau hal sebenarnya, Mia akan merasa bahwa kedai ini terletak di tengah-tengah sebuah lapangan luas.

“Mbak, jangan kagum dulu. Wong Mas Riko saya yang ngasih tahu rahasianya kok.” ujar bapak-bapak yang tadi dengan gamblang, seolah bisa membaca raut wajah Mia. Riko nyengir-nyengir nggak jelas ketika ditatap sinis oleh Mia.

“Aah udah! Gue laper nih! Yuk ah makan!” seru Riko. “Pak! Saya gudeg satu ya! Elo apa Mia?” tanya Riko kepada Mia.

“Ada coto makassar nggak Pak?” tanya Mia.

“Ya ada dong!” seru si bapak.

“Yaudah, itu aja satu ya, Pak.”

“Laksanaken!” seru si bapak bersemangat.

Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai makan, dan Mia pergi ke toilet. Sebenarnya Riko gatal ingin mengantar Mia. Ia takut Mia akan tersesat, karena ia tahu ini pertama kalinya Mia pergi ke pasar malam.

5 menit berlalu dan Mia belum datang. 10 menit... 12 menit...

Riko pun semakin gelisah. Jika dalam waktu 3 menit lagi Mia tidak datang, ia akan menyusul Mia.

Dan.... 3 menit pun berlalu...

Riko merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar 50rb dan selembar 20rb.

“Ini Pak! Ambil aja kembaliannya!” teriak Riko dan ia pun langsung melesat keluar kedai, mencari Mia.


“Mia! Mia!” teriak Riko. Riko terus berlari menuju toilet sambil meneriakkan nama Mia. Setibanya di depan toilet perempuan, Riko berteriak lagi. “Mia Mia! Lo ada disini nggak? Kalau ada jawab gue!”

Tidak ada jawaban.

“Mia!” teriak Riko lagi.

Tidak ada jawaban. Riko pun kembali berlari.

Seorang bapak-bapak yang sepertinya menunggui toilet itu heran melihat Riko. Lalu ia pun berinisiatif memanggilnya.

“Mas, mas! Mas yang tadi teriak-teriak!” teriak bapak itu. Riko menoleh.

“Iya Pak?”

“Mas lagi nyari orang ya?” Riko mendekati bapak itu.

“Bener Pak! Bapak liat nggak cewek yang pake baju merah marun, jaket jeans setulang rusuk, terus rambutnya diiket, tapi nggak semuanya?” tanya Riko.

“Oh! Iya, tadi kalau saya nggak salah, Mbak yang Mas cari kesini. Terus nanya, ada yang jual gelang-gelangan nggak, terus saya jawab ada di bagian depan.” jelas bapak itu.

“Oh, iya makasih Pak!”

“Oiya Mas! Cewek cantik kayak gitu jangan dilepas, disini banyak orang jahat.” Riko bergidik seram, lalu tersenyum.

“Iya Pak, maafin saya. Saya pergi dulu ya Pak!” Riko langsung melesat mencari Mia.


“Mia! Mia!” teriak Riko. Kini ia berada di bagian depan. Ia mencari-cari tukang asesoris.

“Ah itu dia!” Riko pun mendekatinya.

“Permisi Mas! Tadi liat cewek nggak? Pake baju merah marun, jaket jeans setulang rusuk, terus rambutnya diiket, tapi nggak semuanya?” tanya Riko.

“Ah iya! Saya liat Mas. Tadi sih masuk kesana!” Mas-mas penjual gelang menunjuk ke pusat keramain.

“Oiya, Mas. Tadi kayaknya ada yang ngikutin Mbak yang Mas cari. 2 orang. Hati-hati Mas, cewek cantik jangan dilepas, banyak orang jahat disini!” jelas Mas-mas penjual gelang itu.

Riko hanya menatap keramaian. Tangannya mengepal. Ia harus menemukan Mia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak disini: