Yang Terakhir
Bagian yang paling menyakitkan dari sebuah pertemuan adalah perpisahan. Dan itulah yang terjadi padaku.
***
Ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan. Pernahkah mencintai seseorang? Mungkin jawabannya bisa iya, atau tidak. Tapi aku yakin kalau manusia pasti pernah menyayangi seseorang kan?
Sekarang, aku akan berbagi tentang orang yang sangat kusayangi.
***
Awalnya, aku nggak pernah mengenal dirimu. Sampai akhirnya waktu mempertemukan kita dan kita berkenalan. Nggak ada jabat tangan resmi memang, dan sampai sekarang pun aku heran, kenapa kau bisa dengan mudahnya memanggil namaku dengan nama kecilku sedangkan teman-teman yang lain tidak? Tapi justru, itulah yang membuatku nyaman denganmu.
Kau adalah satria malam. Gelap, dan menghanyutkan. Kau bukanlah seseorang yang dicari keberadaannya, namun kau selalu ada ketika orang lain mencarimu. Itulah yang membuatku terkesan padamu.
Kau seperti mentari. Yang dengan baik hati memancarkan kehangatanmu, tanpa memedulikan apakah orang lain menghargai kehangatanmu. Kau menyayangi semua orang tanpa harus menuntu mereka menyayangimu kembali. Itulah yang membuat perasaan sayang ini diam-diam tumbuh. Tanpa sempat kusadari, dan tanpa sempat kuhindari.
***
"Ris! Mau kemana?" tanyamu, Angga, ketika melihatku kesusahan membawa tumpukan buku yang kudapat dari perpustakaan.
"Kelas! Naro buku-buku ini. Gila, berat." ujarku setengah mengeluh. Kau pun berjalan mendekatiku dan mengambil lebih dari setengah buku yang kubawa.
"Eh eh eh, nggak usah Ngga! Gue bisa sendiri kok! Lagian kelas juga tinggal disana aja!" tunjukku ke depan dengan daguku.
Kau hanya tersenyum, dan berkata, "Sekalian gue juga mau ke kelas. By the way, ini buku apaan? Baru?"
Aku tersenyum. Aku tahu ini memang kebiasaanmu. Kau akan mengalihkan pembicaraan jika orang yang kau bantu merasa tidak enak padamu.
"Iya, katanya sih baru dateng dari dinas tadi." jawabku. Kau hanya tersenyum. Kami pun memasuki kelas dan membagikan buku ini.
Selesai semua tugasku sekarang. Buku sudah kuambil, kami bawa ke kelas, dan kami bagikan. Dan sekarang aku dapat istirahat dengan tenang. Senangnya...
"Thanks yaa!" ucapku padamu sambil tersenyum. Kau membalas senyumku dengan senyum indahmu.
"Mau istirahat ya?" tanyamu.
"Gitu deh." jawabku.
"Mm, duduk disini sebentar." Kau menarikku duduk ke salah satu bangku di depan pintu. "Tunggu bentar yaa.." dan kau pun meninggalkanku.
Aku hanya duduk diam sambil memandangmu dari kelas. Kutebak ya.. Kau akan berjalan ke kantin, menuju tempat Mang Dadang, membeli sebuah susu coklat, lalu kembali ke kelas. Kau berikan susu itu kepadaku, tanpa membiarkan aku mengucapkan sepatah kata pun padamu. Dan aku akan mengirim sebuah ucapan terima kasih setelahnya lewat pesan singkat dari telepon genggamku, kau akan terkejut dan membuka telepon genggammu, membacanya, dan tersenyum disana. Kau tidak akan menoleh ataupun membalas pesan singkatku, tapi kau akan berlari menuju lapangan basket dan bermain basket dengan teman-temanmu.
Dan hal itu pun terjadi.
Aku hanya tersenyum memandangmu yang sedang bermain basket. Kau selalu melakukan ini padaku, sampai-sampai aku hafal setiap lamanya waktu. Jika ada melenceng sedikit, itu pasti karena kau mengantri, atau pergi ke toilet dulu, atau membantu teman yang lain. Ya, seperti itulah dirimu, wahai satria malamku.
"Ciee yang lagi liatin pacaar!" seru Lina, Lisa, dan Lita. Ketiga temanku yang kembar tiga.
Aku hanya tersenyum. Pacar? Entahlah. Dia pernah mengatakan menyayangiku, dan aku juga mengatakan bahwa aku menyayanginya. Tapi dia lakukan itu ke semua orang, sehingga membuatku bingung dengan hubungan kami. Ini sudah berlangsung selama, mmm, kurang lebih 3 tahun.
"Minum susu dari pacar yaaa?" goda Lina.
"Jeles lo? Minta beliin sana sama cowok lo." timpalku.
"Nyindir lo?" jawabnya kemudian. Kami berempat pun tertawa bersama-sama.
"Gilaa! Tau gaa! Kita tuh, eh bukan kita aja deh, cewek-cewek sekelas tuh pada jeles sama loooo! Lo sama Angga tuh kayak suami istri tau nggaaaak!" ujar Lita histeris. Ini yang selalu mereka lakukan jika kau melakukan hal seperti tadi padaku. Tapi, siapa peduli? Aku menyukainya kok.
"Siapa suruh lo, lo, sama lo nolak Angga dulu!" ujarku terkikik geli. Aku tahu kau juga mengatakan sayang kepada Lita, Lina, dan Lisa. Kau juga mengungkapkannya kepada hampir seluruh cewek di kelas. Tapi, hanya aku yang sepertinya "menerimamu" atau apapun itu. Dan hal itulah yang membuatku gundah hingga sekarang.
"Abisnyaa... itu kan dulu Ris....." ujar Lisa cengengesan. Ya, kau bukanlah cowok seganteng Brad Pitt ataupun sepintar Einstein. Kau hanyalah cowok biasa yang dengan mudah menunjukkan rasa sayangmu kepada orang lain dan selalu berusaha membuat orang lain nyaman denganmu.
Sebenarnya, kau cukup populer setelah menyatakan sayangmu kepadaku. Aku masih ingat, saat kau menyatakan sayangmu, kau hanyalah seorang cowok cupu yang dikucilkan. Tapi entah kenapa, aku sayang padamu. Dan aku pun membalas perasaanmu. Dan setelah peristiwa itu, kau bertransformasi menjadi cowok ganteng yang sekarang diincar oleh semua cewek.
"Heh! Ngelamun aja!" seru Lina mengagetkanku.
"Lagi ngebayangin yang nggak-nggak tuh!" celetuk Lita asal.
"Apaan siiih!" seruku.
"Aaa ngaku loo. Ang..mmphf" Aku menutup mulut Lisa, dan ia pun menjilat tanganku.
"Iiih! Lisa jorooook!" ujarku sambil tertawa-tawa dan langsung mencuci tanganku di wastafel. Sekilas aku melihatmu tersenyum ke arahku, dan langsung fokus pada permainanmu begitu aku melihatmu.
"Cieee yang lagi lirik-lirikkan!" seru mereka bertiga. Sial! Ternyata mereka menangkap gelagatku tadi.
Aku hanya bisa tertawa garing. Tahukah kamu? Entah yang kau nyatakan itu asli atau bukan, tapi aku menyayangimu. Sangat menyayangimu. Aku nggak akan pernah mau kehilanganmu..
***
Dear Riris...
Maafkan aku yang menghianatimu seperti ini. Maafkan aku.
Maafkan aku karena aku nggak bisa menjaga senyummu lagi. Maafkan aku.
Maafkan aku yang sudah melukaimu begitu dalam. Maafkan aku.
Maafkan aku yang selama ini selalu menyusahkanmu. Maafkan aku.
Angga.
*
Dear Riris yang cantik...
Stop memukulku! Karena aku nggak pernah mencoba untuk gombal padamu! Kau benar-benar cantik, sayang...
Tahukah hal yang paling kurindukan dari dirimu? Senyummu. Wajahmu. Dan perasaan sayangmu.
Aku benar-benar merindukanmu disini.
Angga.
*
Dear Riris...
Sekarang aku benar benar merindukanmu! Ingin rasanya aku kabur dari sini dan berlari memelukmu! Hmm.. ingat terakhir kali aku memelukmu? Itu ketika kelulusan kita, ketika kau menceritakan semua impianmu padaku. Kau tahu? Aku benar-benar nggak tahan saat itu. Ingin rasanya aku memelukmu, dan nggak melepaskanmu selamanya.
Saat itu kau benar-benar menggemaskan, sayang...
Aku sangat rindu padamu saat ini...
Angga.
*
Dear Riris...
Tidak! Sekarang aku mulai botak! Gimana nih?! Nanti aku nggak ganteng lagi...
Riris, terima kasih untuk menyayangiku apa adanya. Saat kau membalas rasa sayangku, aku tahu kalau kau tulus.
Maka, aku memutuskan untuk menjadi diriku apa adanya.
Tahukan kau apa yang kupikirkan saat itu? Cepat cepat bertemu denganmu! Entah kenapa, aku sangat merindukanmu saat itu juga!
Dan sekarang pun, aku tetap memikirkanmu, sayang...
Tetap merindukanmu..
Angga.
*
Dear Riris...
Mungkin inilah saatnya.
Tahukan kau penyakit, "kanker"? Pasti tahu ya?
Penyakit sialan itu menyerang otakku. Maafkan aku nggak pernah memberi tahukan hal ini padamu. Aku nggak pengen menghapus senyum dari wajahmu. Maafkan aku sekarang jika aku telah menyakitimu.
Aku sayang padamu.
Angga.
*
Dear Riris...
Aku mengetahui hal ini ketika akan masuk SMP. Saat itulah kita bertemu kan?
Sepanjang liburan aku hanya mengurung diriku di kamar. Berharap kematianku segera datang. Aku sangat terpuruk. Nggak ada semangat hidup.
Aku cuma keluar untuk makan. Di kamarku ada kamar mandi! Jadi jangan tanya aku mandi apa nggak yaa.. hehe..
Bahkan, awalnya aku menolak untuk sekolah. Untuk apa sekolah jika akhirnya aku akan mati? Itulah yang akau pikirkan. Tapi atas bujukan seluruh keluargaku, aku luluh.
Dan semua semangatku bangkit ketika melihat senyummu. Kau lah yang kulihat pertama kali di SMP. Dan kau lah satu-satunya orang yang ingin kulindungi.
Aku sayang padamu...
Angga.
*
Dear Riris..
Sekarang aku nggak ganteng lagi. Aku udah bener-bener botak, kurus, dan pucat. Dengar-dengar sih, hidupku nggak lama lagi.
Aku belum rela mati jika belum memelukmu. Jadi, maukah kau datang ke mimpiku dan memelukku? Supaya aku nggak menghantuimu nanti, hehe..
Aku selalu sayang padamu.
Angga.
*
Dear Riris..
Aku bener-bener nggak kuat lagi. Maafin aku ya..
Aku sayang padamu.
Angga.
***
Aku menangis. Hanya bisa menangis membaca surat ini. Kenapa kau merahasiakannya dariku? Aku benar-benar nggak bisa kehilanganmu Angga..
Aku nggak bisa tinggal diam. Sekarang juga, aku akan menelpon ibumu dan menanyakan keberadaanmu! Nggak boleh? Enak saja! Salahkan saja orang yang mengirimkan surat ini kepadaku. Karena aku sekarang benar-benar nggak bisa kehilanganmu. Aku benar-benar menyayangimu..
***
"Tante.." ujarku perlahan. Wanita yang kupanggil menoleh, teaptnya, itu ibumu. Sudah berapa lama aku tidak melihat wajah cantik ibumu ya? Sekarang wajahnya pucat dan kurus. Aku ingin menangis melihatnya.
"Riris!" Ibumu langsung berlari memelukku. Memelukku dengan erat. Begitu juga denganku.
"Apa kabar kamu nak? Tante kangen sekali padamu." tanya ibumu. Aku hanya bisa tersenyum pahit.
"Aku nggak baik-baik saja setelah membaca surat dari tante." ujarku jujur. Ibumu hanya tersenyum lirih.
"Gimana Angga?" tanyaku perlahan.
"...."
"Tante..."
"Angga di dalam. Dokter sendiri sudah angkat tangan dengan keadaannya. Sampai saat ini, dia masih hidup. Dua hari yang lalu kami sudah merelakannya, kami memutuskan untuk melepas semua peralatan medisnya. Tapi dia masih nggak mau pergi." Aku menoleh. Itu ayahmu. Aku langsung berlari memeluknya.
Betapa aku rindu denganmu dan keluargamu, Ngga..
"Masuklah Ris.. Sepertinya dia ingin bertemu denganmu." ujar ayahmu. Tubuhku menegang. Aku nggak siap. Aku takut menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Lebih baik kau menghantuiku agar aku masih bisa selalu bertemu denganmu.
"Ayolah Ris.." bujuk ayahmu yag melihatku bergeming.
"A..aku takut nangis di dalem Om, Tante. Aku nggak mau Angga melihatku menangis, Om, Tante." ujarku perlahan. Aku menggigit bibirku, menahan air mataku. Ibumu mendekapku begitu erat. Ayahmu mengusap kepalaku dengan lembut. Ah.. aku rindu kau melakukan itu padaku.
Dan air mataku pun tumpah. Aku menangis, menangis dan menangis. Ibumu mendekapku lebih erat, membuat dada ini sesak. Air mataku terus mengalir.
"Riris.. jangan nangis sayang. Angga nggak akan pergi.. Ia akan selalu ada disini.." ujar ibumu sambil mengusap dadaku. Hatiku terkoyak sekarang. Betul-betul terkoyak. Ya, kau akan selalu ada menemaniku, kan?
Aku kan menguatkan diriku dan menghapus air mataku. "Riris mau ke dalam ya Tante.." Ayah dan ibumu tersenyum kepadaku.
Perlahan, aku masuk ke kamarmu. Angga.. benar. Kau botak sekarang. Kau kurus, dan tampak pucat. Dan kau enggak ganteng lagi.
Betapa aku merindukanmu!
Aku pun berlari memelukmu yang terbaring lemah. Air matamu menetes.
"Angga, jangan nangis sayang.." ujarku menenangkannya, dan diriku sendiri. Aku benar-benar rindu padamu, sayang padamu. Sampai detik ini, aku semakin sayang padamu.
"Angga.. sekarang aku memelukmu, sedang memelukmu. Maukah kau mengelus kepalaku?" tanyaku perlahan, menahan nangis. Ajaib. Tanganmu bergerak menuju kepalaku, dan mengelus kepalaku sebentar. Kau menyentuh mataku, dan bibirku. Aku terenyak. Kau melarangku menangis dan menyuruhku untuk tersenyum.
Aku pun tertawa dan menghapus air mataku. Benar, aku harus tersenyum.
"Ok Ngga, aku nggak akan nangis lagi." dan kau pun tersenyum. Aku menggenggam tanganmu dengan erat.
"Angga.. Aku kangen sama kamu. Maafin aku kalau aku sering nyusahin kamu." ujarku lirih. Kau menggerakkan kepalamu. Aku tersenyum.
"Kamu nggak pernah nyusahin aku Ngga. Justru aku yang mau bilang makasih sama kamu. Aku udah maafin kamu."
"Makasih ya Ngga, atas semuanya." Dan kau pun pergi. Pergi untuk selamanya.
***
Hatiku hancur. Terkoyak habis-habisan. Pecah berkeping-keping. Kau nggak pernah ucapkan kata cinta atau suka. Dan aku hanya berpegang teguh pada kata sayangmu.
Namun, itu dulu. Sekarang aku percaya sepenuhnya padamu. Kaulah pemilik hatiku, Angga. Senyummu adalah semangat untukku. Belaianmu adalah nafasku. Angga... aku sayang padamu.
ini fiksi yaa haha
BalasHapus*bisi ada yang salah kaprah
tanggung jawab!aku nangis masaaa ;(
Hapus*sorrydianonymous-jgndibukaidentitasnyakalotauinisiapahehe*