Laman

Minggu, 27 November 2011

Pelangi

Part 1

Mejikuhibiniu. Warna-warna pelangi yang mewarnai hidup ini. Kadang hidup berwarna merah, penuh emosi. Ketika emosi itu mereda, ia akan surut menjadi jingga sampai hilang dan menjadi kuning. Ketika itu kita akan merasa damai dan hidup seakan berwarna hijau yang tenang. Kemudian akan muncul konflik-konflik yang bergelombang layaknya lautan penuh ombak. Ketika konflik itu terselesaikan, hidup berwarna nila, netral. Dan akhirnya berwarna ungu dan penuh cinta.

Itulah warna hidup Mia. Persis seperti pelangi. Diawali dengan kepergian kakak tercintanya. Sejak itu, Mamanya selalu sedih ketika hujan datang. Kak Mira mengidap tumor otak dan meninggal saat hujan turun. Kak Mira merupakan kakak yang sangat berbakti kepada kedua orangtuanya dan sangat menyayanginya. Kak Mira sangat disayangi oleh semua orang karena kebaikannya, kecantikannya, dan keramahannya.

Papanya sibuk bekerja untuk mengusir kesedihannya. Tapi itu bukan berarti keluarga Mia kacau. Memang saat-saat itu saat penuh emosi. Tapi mereka berhasil mengatasinya dan membuat semuanya menjadi kuning yang cerah. Hijau mewarnai hari mereka sekarang. Sebenarnya semuanya masih sedih. Semuanya menyimpan kesedihan sendiri. Tapi mereka tahu bahwa itu akan menyulitkan Mira, maka mereka bergerak maju dan menjalani hari mereka dengan ceria.

***

Mia sangat suka hujan. Karena hujan membuatnya merasa dekat dengan Mira. Namun karena hujanlah ia bertemu dengan Riko, cowok tengil yang sangat menyebalkan.

Hobi Mia sekarang hujan-hujanan. Ia mempunyai sebuah payung transparan dan selalu memakainya dikala hujan turun. Dengan begitu ia merasa ia bersama hujan. Ia merasa Mira sangat dekat dengannya. Ia bisa merasakan dekapan Mira, harum tubuhnya Mira, dan segalanya tentang Mira. Ia juga merasa seakan-akan Mira sedang menasihatinya berkali-kali. Ia ingat semua nasihat Mira. Mira bilang bahwa Mia nggak boleh pilih-pilih temen. Mia harus baik sama semua orang. Mira bilang kalau Mia dijahatin, Mia nggak boleh bales dendam ke orang itu, justru harus baik-baik sama orang itu. Mira bilang Mia harus rajin belajar dan bikin Papa Mama bangga. Mira bilang Mia harus rajin shalat, doain Mira dan Papa Mama. Mira bilang Mia harus menentukan kebahagiaan Mia sendiri, bukan sama orang lain. Dan yang paling aneh, Mira bilang kalau Mia nggak boleh ngejar-ngejar cowok. Yang ada capek sendiri. Mending dikejar-kejar cowok, kata Mira.

Mia tersenyum. Mira itu cerewet bangeet. Tapi suaranya halus, enak didengar. Untung aja halus. Kalau cempreng? Bah, bisa panas kuping Mia.

Mia suka curhat sama Mira. Makanya sekarang Mia lagi hujan-hujanan di atas genteng balkonnya. Mau curhat sama Mira.

“Kakak apa kabar disana? Hehe, iya, Mia mau curhat kak. Kakak tau kan kalau rumah disebelah kosong? Sejak seminggu yang lalu ada yang nempatin rumah itu. Jumlahnya 4 orang. Disana ada Mama Lia, Papa Rio, Kak Bintang, sama Riko. Terus disebelah kamar Mia yang nempatin Riko. Ganteng? Idiih.. Putih. Mia nggak suka cowok putih. Kayaknya penyakitan deh tu anak. Kalau Kak Bintang baik banget. Masa kemarin Mia diajak jalan-jalan sama Kak Bintang, sama pacarnya juga. Pacarnya Kak Bintang namanya Risa. Orangnya cantik, baik lagi. Katanya Kak Risa lagi sidang, jadi bentar lagi lulus. Kalau Kak Bintang sih udah lulus. Terus kata Mama Lia, Insyaallah awal tahun depan Kak Bintang sama Kak Risa nikah.” Mia mengambil napas sebentar, lalu melanjutkan ceritanya,

“Mama Lia sama Papa Rio baik banget. Malam minggu kemaren Papa Mama jalan-jalan sama mereka. Alhasil Mia dititipin ke rumah Kak Bintang. Untung ada Kak Risa, jadi Mia nggak sendirian. Kalau Riko orangnya baik sih, tapi jail banget. Mia suka dijailin. Kerjaannya ngebajak HP Mia mulu. Udah gitu pernah waktu itu Mia dibikinin teh, tapi asin. Nyebelin. Terus Kak, kakak inget kan waktu hari kamis Mia juga curhat ke Kakak tentang Rina yang jadian sama Willy. Waktu Mia mau masuk ke rumah karena hujannya udah berhenti, Riko manggil Mia. Ternyata Riko ngeliat, terus Riko bilang kalau Mia aneh. Mia bilang aja Mia nggak aneh. Akhirnya Mia ceritain semuanya ke Riko. Masa Riko bilang kalau Mia terus-terusan kayak gini, nanti kakak malah nggak tenang. Mia bilang aja kalau Kak Mira pasti nggak keberatan ngedengerin curhatan Mia. Disitu Mia sama Riko ngotot-ngototan.” Mia menghelas napas, lalu melanjutkan,

“Terus masa Riko bilang gini, “Daripada curhat sama Kak Mira dan justru bikin Kak Mira tambah sedih, mending jadi pacar gue deh. Mia boleh curhat sepuasnya sama Riko.” Apaan coba. Pede banget. Nyebeliiin... Mia cerita sama Mama, Mama cuma ketawa. Kata Mama gini, “Iya tuh, dengerin Riko. Nggak baik juga kalau kamu terus-terusan curhat sama hujan. Ntar kamu sakit lagi.” Papa juga cuma ketawa-ketawa ngedenger Mia cerita. Nyebeliin.”

“Padahal kak, Riko kan udah punya pacar. Namanya Mika. Aduh, nama “Mi” pasaran ya Kak. Mira-Mia-Mika. Uuuh... Oiya Kak, tapi, sebenernya...”

“Woi Mia! Lo curhat sama hujan lagi? Udaah, lo jadi pacar gue aja!” teriakan Riko dari seberang kamarnya memutuskan omongan Mia.

“Apaan sih Riko?!” Mia melempar sendalnya ke arah Riko. Dengan sigap Riko menangkap sendal Mia. Entah kenapa wajah Mia sedikit memerah.

“Eits, santai Mbaak. Bercanda.”

“Masuk lo Riko! Eh, btw, lo nggak nguping kan?” tanya Mia khawatir.

“Nguping nggak ya...” jawab Riko.

“Aaah lo nyebeliiin! Eh, kenapa lo baru pulang?”

“Kata siapa? Daritadi gue disini kok.”

“Boong lo. Lo abis main bola ya?” Mia melihat seragam bola yang dikenakan Riko basah dan penuh lumpur. Eww..

“Tuh tau.”

“Emang mau tanding?” tanya Mia heran. Kepindahan Riko membuatnya harus sekelas dengan Riko juga di sekolah. Dan hebatnya, Riko langsung ditunjuk oleh Wily, kapten tim bola kelasnya, menjadi penjaga gawang. Padahal baru sekali Wily melihat permainan Riko. Tapi yaah, Mia juga mengakui kalau permainan Riko bagus.

“Yoi, nanti sabtu lawan 10e.”

“Oh, good luck aja ya. Eh, ntar kalau menang traktir gue lho.”

“Bleh, enak aja. Eh, lo masuk sana. Ntar gue mandi dulu, terus lo curhat sama gue. Nggak usah sama hujan lagi.”

“Idiiih.. Siapa lo jugaa.”

“Lagian lo nekat amat sampai naik ke genteng gitu.”

“Biarin terserah gue laah. Mandi sana!”

“Ntar curhat sama gue yaa?”

“Enggaaa.”

“Hahaha.. Lagian hujannya udah berhenti tuuh.” Mia melihat sekelilingnya. Benar juga. Hujan udah berhenti.

“Huaaa! Ah elo sih! Gue kan belum selesai curhatnya. Aaah..” ujar Mia panik. Masih ada satu hal yang ia ingin bicarakan, dan hal itu cukup mengganggu Mia.

“Hahahaha, makanya curhat sama gue. Gue akan ada kapanpun dimanapun buat elo.”

“Idih, lagak lo kayak siapa aja. Udah ah, gue mau masuk.”

“Eh tunggu dulu. Liat kesana deh, ada pelangi.” Riko menunjuk ke arah timur. Tampak sebuah pelangi melingkar di langit sore.

Mia menoleh ke arah yang ditunjuk Riko. “Waaah.. Bagus bangeet.. Riko, lo cerdas juga ya memperhatikan lingkungan sekitar lo. Hahahaha..”

“.....”

Tidak ada sahutan. Mia menoleh ke arah kamar Riko. Tampak pintunya sudah tertutup.

“Aah, apaan yang katanya selalu ada kapanpun dimanapun. Tau ah.” Mia pun masuk ke kamar dengan wajah cemberut.

***

Sebenarnya Riko masih ada di balik jendela. Ia memperhatikan Mia. Selalu memperhatikan Mia. Apa yang Riko tawarkan bukan cuma bercandaan saja. Itu semua benar, jujur dari hatinya. Hanya saja waktu itu ia salah menyatakannya.

Riko tersenyum. Ia selalu memperhatikan hujan. Karena setiap hujan selesai, nampak sebuah pelangi. Ia ingin menjadi pelangi bagi Mia. Yang selalu ada setelah hujan datang dan berlalu.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak disini: